Sebabkan Inflasi, BI Minta Kerjasama Kendalikan Harga Tomat

SULUTNEWSTV.com, MANADO – Manado kembali mengalami kenaikan Inflasi sebesar 3,30 persen bahkan lebih tinggi dari tingkat Nasional. Dari data yang dirilis Badan Pusat Statistik Provinsi Sulut, komoditi tomat sayur masih menjadi andil utama meningkatnya Inflasi.

Meski begitu, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulut optimis inflasi Sulut akan tutup buku dengan inflasi pada rentang target 3,5 persen ±1 persen.

“Sepanjang November 2019 BI dan TPID Sulut telah berupaya dengan maksimal untuk menekan Inflasi terutama pada komoditas tomat sayur. Dan kami yakin, kami optimis dengan tetap bisa mengendalikan harga tomat hingga akhir tahun. Dengan melancarkan program jangka pendek, menengah, dan panjang,” kata Kepala Bank Indonesia Sulut Arbonas Hutabarat, Senin(2/12).

Diketahui, Tomat sayur pada November 2019 mengalami kenaikan sebesar 168,65% (mtm) dengan kontribusi pada inflasi bulanan Sulut sebesar 3,41% (mtm). Data survey pemantauan harga Bank Indonesia mengkonfirmasi fenomena kenaikan harga tomat tersebut, dimana survey tersebut mencatat harga tomat sayur secara rata-rata bergerak dari Rp 6.545/Kg menjadi Rp 19.819/kg.

“Hukum Demand-Supply sepertinya tidak berlaku dalam pergerakan harga tomat di bulan November tersebut. Pada umumnya kenaikan harga suatu komoditas, misalnya tomat sayur secara signifikan terjadi apabila pasokan yang ada tidak memadai dan diikuti oleh lonjakan permintaan masyarakat,” katanya.

Namun demikian, fenomena tersebut menurut hematnya tidak terjadi di pasar tomat sepanjang bulan November 2019. Pemantauan terhadap pasokan tomat sayur di pasar menunjukkan bahwa pasokan tomat sayur di Sulawesi Utara diperkirakan cukup meskipun permintaan akan tomat sayur menunjukkan peningkatan.

“Pergerakan komoditas antar daerah sedikit banyak ditengarai berdampak pada pergerakan harga tomat di Sulawesi Utara, namun demikian secara umum dampaknya diperkirakan tidak terlalu besar mengingat disparitas harga antar daerah di Sulampua yang semakin menipis seiring kenaikan harga tomat sayur secara signifikan di Bulan November 2019. Oleh karena itu, diperkirakan terdapat faktor di luar mekanisme pasar yang turut mempengaruhi kenaikan harga tomat sayur di Sulawesi Utara selama bulan November 2019,” tambahnya.

Berbagai macam tekanan dan tantangan, Arbonas pun menyampaikan untuk berupaya mengendalikan Inflasi di Sulut oleh Bank Indonesia bersama TPID.

“Kami akan terus berkoordinasi. Operasi pasar untuk menekan harga tomat sayur di pasar tradisional melalui sinergi dan kerjasama seluruh pihak baik tingkat kabupaten/kota sentra komoditas, seperti Kab Minahasa dan Minahasa Tenggara maupun Pemerintah Provinsi menjadi salah satu alternatif upaya mengendalikan harga tomat sayur. Selain itu, Satuan Tugas Ketahanan Pangan juga memainkan peran penting dalam mengurangi praktek-praktek pembentukan harga yang tidak lazim mapun praktek-prakterk distorsi pasar lainnya. Demikian halnya pengelolaan ekspektasi masyarakat dengan perluasan akses informasi dan pasokan di pasar juga tetap perlu dilakukan secara intensif,”jelasnya.(gabby)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s