HLM TP2DD dan TPID Boltim Bahas Strategi Kendalikan Inflasi dan Perkuat Ketahanan Pangan

Unknown's avatar
banner 120x600

SULUTNEWSTV.com, BOLTIM – Pengendalian inflasi daerah, percepatan digitalisasi transaksi pemerintah, serta penguatan ketahanan pangan menjadi fokus utama dalam kegiatan High Level Meeting (HLM) Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), yang digelar belum lama ini.

Kegiatan tersebut menjadi forum koordinasi lintas instansi guna memperkuat sinergi kebijakan dalam menjaga stabilitas ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Boltim.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara, Joko Supratikto mengatakan pengendalian inflasi harus dilakukan secara konsisten dan kolaboratif agar stabilitas harga tetap terjaga tanpa mengurangi kesejahteraan masyarakat.

“Stabilitas harga menjadi fondasi penting dalam menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan berkualitas. Karena itu, sinergi seluruh pihak sangat diperlukan, terutama menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional seperti Idul Adha,” ujar Joko.

Dalam pemaparan perkembangan inflasi, disebutkan bahwa Provinsi Sulawesi Utara pada April 2026 mengalami inflasi sebesar 0,96 persen secara month to month (mtm). Kenaikan harga terutama dipicu oleh komoditas tomat seiring berakhirnya masa panen raya, serta kenaikan tarif angkutan udara akibat meningkatnya harga avtur.

Sementara itu, komoditas daun bawang menjadi penahan inflasi karena memasuki musim panen di wilayah Minahasa Selatan dan Tomohon.
Khusus di Boltim, pergerakan harga komoditas disebut cenderung mengikuti Kota Kotamobagu sebagai basis distribusi utama. Namun, rata-rata harga sejumlah komoditas di Boltim masih lebih tinggi dibandingkan Kotamobagu, terutama cabai rawit dan daging ayam ras.

Selain itu, pasokan dan harga beras juga menjadi perhatian. Pada minggu kedua Mei 2026, Boltim tercatat sebagai salah satu daerah yang mengalami kenaikan harga beras sebesar 0,93 persen berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).

Menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Adha 2026, pemerintah daerah bersama TPID juga diminta mengantisipasi potensi kenaikan harga sejumlah komoditas strategis seperti cabai rawit dan daging ayam ras yang selama ini mengalami lonjakan harga menjelang Ramadan dan Idul Fitri.

Dalam forum tersebut juga disampaikan transformasi Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) menjadi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) pada 2026. Program ini diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional melalui penguatan produksi, distribusi pasokan antarwilayah, serta optimalisasi rantai pasok pangan.

Joko menambahkan, penguatan ketahanan pangan daerah perlu dilakukan melalui peningkatan kapasitas produksi petani serta penguatan rantai distribusi agar pasokan pangan tetap stabil.

“Melalui program PATUA dan WANUA, Bank Indonesia terus mendorong pemberdayaan petani dan UMKM agar mampu meningkatkan produktivitas dan menjaga pasokan pangan strategis di daerah,” katanya.

Sepanjang 2025, TPID Boltim disebut telah melakukan berbagai langkah pengendalian inflasi melalui strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Intervensi dilakukan melalui Gerakan Pangan Murah, pelatihan Petani Unggulan Sulawesi Utara (PATUA), bantuan sarana produksi pertanian, hingga penguatan koordinasi lintas instansi dalam pemantauan harga pangan.

Selain itu, masyarakat juga didorong untuk menerapkan pola belanja bijak guna menghindari penimbunan maupun pembelian berlebihan yang dapat memicu kenaikan harga.

Pada kesempatan itu, Bank Indonesia Sulawesi Utara turut memaparkan program pemberdayaan petani dan UMKM melalui program PATUA dan Wirausaha Unggulan Sulawesi Utara (WANUA). Sepanjang 2020–2025 tercatat sebanyak 84 petani unggulan dan 144 UMKM unggulan telah dibina BI Sulut.

Dari jumlah tersebut, enam petani unggulan berasal dari Kabupaten Boltim, sebagian besar berfokus pada budidaya cabai rawit. Capaian itu menempatkan Boltim di posisi keempat sebagai kabupaten/kota dengan jumlah PATUA terbanyak di Sulawesi Utara.(*/gabby)

Leave a Reply

Discover more from www.sulutnewstv.com

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading