BI Sulut: Ekonomi Sulawesi Utara Triwulan I 2026 Tumbuh 5,54 Persen, Hilirisasi Kelapa Jadi Motor Pertumbuhan

Unknown's avatar
banner 120x600

SULUTNEWSTV.com, Manado – Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Utara mencatat perekonomian Sulawesi Utara pada Triwulan I 2026 tetap tumbuh positif sebesar 5,54 persen (year on year/yoy). Meski melambat dibandingkan Triwulan IV 2025 yang mencapai 5,95 persen, pertumbuhan tersebut masih ditopang kuat oleh permintaan domestik, terutama selama momentum hari besar keagamaan dan libur awal tahun.

Deputy Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara, Purwanto, mengatakan capaian tersebut menunjukkan fundamental ekonomi daerah masih terjaga di tengah dinamika ekonomi global.

“Perekonomian Sulawesi Utara tetap menunjukkan ketahanan yang baik. Ke depan, tantangannya adalah bagaimana menjaga momentum pertumbuhan sekaligus menciptakan sumber-sumber pertumbuhan baru yang lebih berkualitas dan berkelanjutan,” kata Purwanto dalam kegiatan Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi (LPP) Sulawesi Utara Periode Mei 2026 yang dirangkaikan dengan Bincang Ekonomi bertema Penguatan Hilirisasi Kelapa sebagai Sumber Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Utara.

Ia menjelaskan, dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi didukung oleh konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, dan investasi. Sementara dari sisi lapangan usaha, sektor pertanian, industri pengolahan, perdagangan, dan transportasi menjadi kontributor utama pertumbuhan.

Di sisi inflasi, Sulawesi Utara mencatat inflasi sebesar 2,20 persen (yoy) pada Triwulan I 2026. Angka tersebut masih berada dalam sasaran nasional 2,5±1 persen. Kenaikan inflasi terutama dipicu oleh tarif listrik, emas perhiasan, dan beras, namun tertahan oleh penurunan harga tomat, daging babi, dan cabai rawit.

Purwanto menambahkan, BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat pengendalian inflasi melalui Gerakan Pangan Murah, operasi pasar, kerja sama antardaerah, hingga program Petani Unggulan Sulawesi Utara (PATUA) guna meningkatkan produksi komoditas pangan strategis.

Sementara itu, pertumbuhan kredit di Sulawesi Utara pada Triwulan I 2026 tercatat sebesar 5,86 persen (yoy) dengan kualitas kredit yang tetap terjaga. Kredit investasi tumbuh paling tinggi sebesar 18,16 persen, meskipun pembiayaan UMKM hanya tumbuh 1 persen dan rasio kredit bermasalah (NPL) UMKM mencapai 5,36 persen sehingga menjadi perhatian.

Di sektor sistem pembayaran, transaksi digital terus mengalami peningkatan. Nominal transaksi BI-FAST tumbuh 39,67 persen (yoy), sementara transaksi uang elektronik meningkat 24,25 persen, mencerminkan semakin luasnya penggunaan kanal pembayaran digital oleh masyarakat.

BI Sulut juga tetap optimistis terhadap prospek ekonomi daerah sepanjang 2026. Berdasarkan berbagai survei, termasuk Survei Konsumen, Survei Kegiatan Dunia Usaha, dan Survei Penjualan Eceran, optimisme masyarakat dan pelaku usaha masih terjaga. Dengan kondisi tersebut, ekonomi Sulawesi Utara diprakirakan tumbuh pada kisaran 5,4 hingga 6,3 persen dengan inflasi tetap berada dalam sasaran nasional.

Menurut Purwanto, salah satu strategi utama untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi adalah memperkuat hilirisasi sektor kelapa. Sebagai provinsi dengan areal perkebunan kelapa terbesar kedua di Indonesia, Sulawesi Utara memiliki peluang besar meningkatkan nilai tambah melalui diversifikasi produk olahan dan perluasan pasar ekspor.

“Hilirisasi kelapa merupakan langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan Sulawesi Utara. Melalui penguatan produktivitas di hulu, peningkatan kapasitas pengolahan, diversifikasi produk, dukungan pembiayaan, serta akses pasar yang lebih luas, sektor kelapa diharapkan menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah,” ujar Purwanto.(*/gabby)

Leave a Reply

Discover more from www.sulutnewstv.com

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading