SULUTNEWSTV.com, MANADO – Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, satu unggahan sederhana dari seorang siswi SMP di Manado berhasil mengetuk hati banyak orang. Bukan sekadar viral, kisah Faith Easter Alexchandarina Darongke kini menjelma menjadi potret nyata bagaimana kepedulian dan respon cepat pemerintah dapat mengubah situasi sulit menjadi harapan baru.
Faith, siswi kelas 7 di SMP Negeri 17 Manado, sebelumnya harus absen selama hampir satu bulan dari sekolah. Penyebabnya sederhana namun berdampak besar: seragam sekolahnya hilang saat dijemur. Keterbatasan ekonomi membuat keluarganya belum mampu mengganti, hingga akhirnya ia memberanikan diri menulis permohonan bantuan di media sosial.
Unggahan tersebut menyebar luas dan menyentuh banyak pihak, termasuk jajaran Pemerintah Kota Manado. Tanpa menunggu lama, Wali Kota Andrei Angouw bersama Wakil Wali Kota Richard Sualang langsung merespons dengan menginstruksikan penyaluran bantuan.
Melalui Wakil Ketua BKSAUA Kota Manado Nyoman Sukra, didampingi Kabag Kesra Janni Ohy, bantuan diserahkan langsung kepada Faith pada Kamis (15/04/2026). Bantuan tersebut tidak hanya berupa seragam sekolah, tetapi juga tas, sepatu, alat tulis, buku, hingga kebutuhan pokok seperti beras.
“Ini adalah bentuk perhatian langsung dari Wali Kota dan Wakil Wali Kota setelah mengetahui kondisi Faith dari media sosial,” ujar Nyoman Sukra.
Bagi keluarga Faith, bantuan ini bukan sekadar materi, melainkan jalan agar anak mereka bisa kembali mengenyam pendidikan. Sang ibu, Indri, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kepedulian pemerintah.
“Terima kasih banyak untuk Wali Kota dan Wakil Wali Kota Manado yang sudah membantu anak kami. Ini sangat berarti supaya dia bisa sekolah lagi,” ungkapnya.
Kisah Faith menjadi pengingat bahwa masih banyak anak yang menghadapi hambatan sederhana namun krusial dalam mengakses pendidikan. Di sisi lain, respon cepat Pemkot Manado menunjukkan bahwa kehadiran pemerintah dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama dalam situasi mendesak.
Lebih dari sekadar bantuan, peristiwa ini mencerminkan pentingnya kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah. Media sosial, dalam hal ini, bukan hanya ruang berbagi cerita, tetapi juga jembatan yang menghubungkan kebutuhan warga dengan solusi nyata.
Kini, Faith tak lagi hanya dikenal sebagai siswi yang sempat kesulitan, tetapi juga simbol harapan—bahwa di balik kesulitan, selalu ada tangan-tangan yang siap membantu.(*/gabby)




















