Inflasi Tahunan Sulut Tembus 7,59 Persen, Harga Cabai hingga Ikan Tude Jadi Pemicu

Unknown's avatar
banner 120x600

SULUTNEWSTV.com, MANADO – Laju inflasi Sulawesi Utara (Sulut) pada September 2026 mencapai 7,59 persen secara tahunan (year on year/yoy). Kenaikan harga sejumlah komoditas pangan menjadi salah satu faktor utama yang mendorong tekanan inflasi di daerah tersebut.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut, selain inflasi tahunan sebesar 7,59 persen, inflasi tahun kalender Januari–September 2026 tercatat 7,35 persen. Sementara secara bulanan, inflasi September 2026 dibandingkan Agustus 2026 mencapai 3,53 persen.

Kepala BPS Sulut Watekhi menyampaikan data tersebut dalam konferensi pers di Aula Kantor BPS Sulut, Kamis (1/10/2026). Menurut Watekhi, sejumlah komoditas pangan menjadi pendorong utama kenaikan harga pada September. Komoditas tersebut antara lain cabai rawit, tomat, cabai merah, ikan selar atau ikan tude, serta kangkung.

Tekanan paling besar secara bulanan berasal dari kelompok makanan, minuman dan tembakau yang mengalami kenaikan sebesar 9,85 persen. “Komoditas yang mendorong inflasi antara lain cabai rawit, tomat, cabai merah, ikan selar atau ikan tude, dan kangkung,” ujar Watekhi dalam pemaparan.

Di sisi lain, sejumlah komoditas justru mengalami penurunan harga dan menjadi faktor penahan laju inflasi. Komoditas tersebut meliputi angkutan udara, bawang putih, minyak goreng, sabun detergen bubuk, serta emas perhiasan.

Dengan inflasi tahunan yang mencapai 7,59 persen, perkembangan harga pangan menjadi salah satu indikator yang perlu terus dicermati, terutama karena komoditas pangan berkaitan langsung dengan pengeluaran masyarakat sehari-hari.

BPS Sulut mencatat perkembangan harga tersebut sebagai bagian dari pemantauan kondisi inflasi dan perubahan harga berbagai komoditas di Sulawesi Utara sepanjang September 2026.(*/gabby)

Leave a Reply

Discover more from www.sulutnewstv.com

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading