oleh, Jurnalis, Gabriela S Rarumangkay
Pagi bagi Erni Arsyad bukan sekadar pergantian hari. Perempuan 45 tahun yang menjalankan usaha di Kecamatan Mapanget, Kota Manado, Sulawesi Utara, itu terbiasa membagi waktu antara keluarga dan usaha yang telah dirintisnya sejak berusia 23 tahun.
Sebagai ibu rumah tangga dengan tiga anak, pagi Erni dimulai dari rumah. Setelah memastikan anak-anaknya berangkat sekolah, ia bersama suaminya kembali menjalankan roda usaha keluarga. Perjalanan Erni sebagai pengusaha dimulai dari sebuah kios kecil ia beri nama ‘Nathan Cell’ yang menjual pulsa, voucher dan berbagai kebutuhan sejenis.
Tidak ada modal besar. Tidak ada toko megah. Hanya keberanian untuk mencoba dan kemauan untuk bertahan. Dari pendapatan kios tersebut, Erni kemudian memberanikan diri membuka warung kecil di rumah yang diberi nama Warung BerkatH.
Dua usaha berjalan bersamaan.
Ketika anak-anak berangkat sekolah, Erni dan suaminya berbagi tugas. Erni menuju kios yang lokasinya cukup jauh dari rumah, sementara suaminya menjaga warung.
Hasil dari kedua usaha itu kembali diputar.
Sedikit demi sedikit, Erni menambah dagangan makanan ringan di rumah, mulai dari mi hingga aneka gorengan.
Begitulah kehidupan Erni berjalan selama bertahun-tahun.
Tidak selalu mudah. Namun sebagai ibu rumah tangga sekaligus pelaku usaha mikro, ia memilih untuk terus menjalani.
Dari usaha kecil itu, Erni dan suaminya menopang kebutuhan keluarga sekaligus pendidikan ketiga anak mereka. Salah satu anaknya kini bahkan telah menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
Semua dilakukan dengan prinsip sederhana : hasil usaha hari ini sebisa mungkin menjadi modal untuk usaha esok hari.
Ketika Pelanggan Bertanya, “Bisa QRIS?”
Perubahan datang dari sebuah pertanyaan sederhana.
Suatu hari, seorang pelanggan datang berbelanja. Namun pelanggan tersebut tidak membawa uang tunai.
“Bisa pakai QRIS?” tanya pelanggan itu.
Erni sempat kebingungan.QRIS? Apa itu?
Ia kemudian mendapat penjelasan bahwa pembayaran bisa dilakukan dengan memindai kode QR menggunakan aplikasi pembayaran digital.
Rasa penasaran membuat Erni mencoba.
Ia kemudian membuat barcode QRIS dan mulai menerapkannya dalam transaksi sehari-hari.
Awalnya, tujuannya sederhana : memudahkan pelanggan.
Namun dalam perjalanannya, Erni justru menemukan manfaat yang dekat dengan persoalan pedagang kecil.
Ia tidak lagi terlalu pusing menyiapkan uang kembalian ketika pelanggan membayar dengan pecahan besar.
Transaksi pun menjadi lebih praktis.
Bahkan ketika nilai pembelian hanya Rp2.000, Erni tetap menawarkan pembayaran digital.
“Silakan pakai QRIS saja,” menjadi salah satu tawaran yang kini biasa ia sampaikan kepada pelanggan.
Dua tahun berlalu sejak pertama kali mengenal QRIS.
Kini Erni bahkan memiliki dua barcode QRIS untuk melayani transaksi melalui layanan perbankan maupun dompet digital.
Barcode kecil itu akhirnya menjadi bagian dari keseharian usahanya.
Dari Kios Kecil, Tumbuh Menjadi Gelombang Digitalisasi
Apa yang dialami Erni ternyata bukan cerita yang berdiri sendiri.
Di Sulawesi Utara, penggunaan QRIS terus berkembang. Basis penggunanya bertambah, sementara jumlah merchant dan transaksi juga menunjukkan perluasan penggunaan pembayaran digital di tengah aktivitas ekonomi masyarakat.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara Joko Supratikto menyebut, hingga Juni 2026 jumlah pengguna QRIS di Sulawesi Utara telah mencapai 597.907 pengguna. Angka tersebut bertambah 68.239 pengguna baru hanya dalam enam bulan pertama 2026. Artinya, basis pengguna QRIS di Sulawesi Utara terus bertambah.
“Dibandingkan posisi awal 2026, pertambahannya mencapai sekitar 12,9 persen. Dari sisi pelaku usaha, tercatat 387.182 merchant telah menggunakan QRIS di Sulawesi Utara. Kota Manado menjadi wilayah dengan jumlah merchant terbesar, mencapai 158.075 merchant, atau sekitar 40,83 persen dari total merchant QRIS Sulawesi Utara,” ungkap Joko.

Pertumbuhan tersebut juga tercermin pada aktivitas transaksinya. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, transaksi QRIS di Sulawesi Utara mencapai 6,93 juta transaksi, atau tumbuh 34,10 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Data tersebut memperlihatkan bahwa penggunaan pembayaran digital semakin meluas, bukan hanya di pusat perbelanjaan atau bisnis berskala besar, tetapi juga pada aktivitas usaha sehari-hari.
Dari transaksi bernilai besar hingga pembelian jajanan senilai beberapa ribu rupiah. Dan di antara angka-angka tersebut, ada Erni. Seorang ibu rumah tangga yang mengembangkan usaha bersama suaminya, lalu perlahan beradaptasi dengan teknologi yang awalnya bahkan tidak ia kenal.
Digitalisasi Harus Berjalan Bersama Inklusi Keuangan
Pertumbuhan transaksi digital pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai cara membayar. Di baliknya terdapat persoalan yang lebih besar: bagaimana pelaku usaha kecil dapat menjadi bagian dari ekosistem keuangan yang semakin digital.
Kepala OJK SulutGo Robert H.P. Sianipar mengatakan penguatan sektor UMKM, pengembangan keuangan digital yang aman dan berintegritas, serta peningkatan literasi dan inklusi keuangan merupakan bagian dari program prioritas OJK dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurut Robert, perkembangan teknologi keuangan perlu diikuti dengan peningkatan pemahaman masyarakat dan pelaku usaha.
“Dengan demikian, digitalisasi tidak hanya memberikan kemudahan dalam bertransaksi, tetapi juga dapat memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan,” kata Robert.

Pandangan tersebut menjadi relevan ketika melihat pengalaman pelaku usaha seperti Erni.
Bagi Erni, QRIS memang dimulai dari kebutuhan yang sangat sederhana : pelanggan tidak membawa uang tunai.
Namun dari transaksi sehari-hari itu, ia mulai mengenal dan memanfaatkan layanan keuangan digital. Di tingkat yang lebih luas, penggunaan QRIS menjadi salah satu bentuk transformasi digital yang mulai masuk hingga ke level usaha mikro dan UMKM.
Bank Indonesia sendiri menjelaskan bahwa perluasan pembayaran digital dapat mendukung aktivitas usaha merchant sekaligus membuka peluang perluasan akses terhadap layanan keuangan digital lainnya. Dengan semakin banyak pelaku usaha yang menerima pembayaran digital, aktivitas ekonomi sehari-hari pun semakin terhubung dengan ekosistem pembayaran yang lebih luas.
Bagi daerah seperti Sulawesi Utara, perkembangan tersebut menjadi bagian dari proses digitalisasi ekonomi yang berlangsung dari tingkat masyarakat hingga pelaku UMKM.
Rp2.000 yang Tetap Berarti
Di warung kecil milik Erni, transaksi tidak selalu bernilai besar. Ada pelanggan yang membeli jajanan, gorengan atau mi dengan nilai hanya beberapa ribu rupiah. Namun justru dari transaksi-transaksi kecil itulah aktivitas jual beli terus bergerak setiap hari. Bagi Erni, QRIS membuat pelanggan tidak perlu lagi berpikir apakah membawa uang tunai atau tidak. Bahkan transaksi senilai Rp2.000 pun tetap bisa dilakukan.
Digitalisasi akhirnya tidak lagi menjadi sesuatu yang jauh dan rumit. Barcode yang terpajang di tempat usahanya menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Lebih dari itu, Erni mengaku merasakan perubahan dalam usahanya. Menurutnya, setelah menggunakan QRIS, transaksi penjualan semakin ramai. Pelanggan lama tetap datang, sementara pelanggan baru juga berdatangan. Nilai setiap transaksi mungkin kecil. Tetapi frekuensi transaksi yang terus bergerak membuat Erni melihat QRIS bukan sekadar alat pembayaran.
Baginya, QRIS telah menjadi salah satu bagian dari perjalanan mengembangkan usaha.
Ketika Biaya Transaksi Menjadi Perhatian
Bagi pelaku usaha kecil seperti Erni, setiap rupiah dari hasil penjualan memiliki arti. Keuntungan yang terlihat kecil sekalipun dapat kembali menjadi modal untuk membeli bahan dagangan, menambah stok atau menjaga agar usaha tetap berputar. Karena itu, kebijakan Merchant Discount Rate (MDR) QRIS yang akan berlaku mulai 1 Oktober 2026 menjadi perhatian bagi pelaku usaha.
Bank Indonesia menetapkan MDR 0 persen tetap berlaku bagi merchant Usaha Mikro (UMI) untuk transaksi hingga Rp500.000. Kebijakan tersebut juga diperluas sehingga transaksi hingga Rp100.000 pada seluruh kategori merchant dikenakan MDR 0 persen. Bagi pedagang kecil, efisiensi biaya transaksi menjadi bagian penting dalam menjaga agar usaha tetap berjalan.
Bagi Erni, kebijakan tersebut memberi ruang lebih besar untuk mempertahankan manfaat pembayaran digital tanpa semakin menambah beban biaya transaksi pada usaha kecilnya.
Dari Barcode Menuju Sebuah Mimpi
Di balik dua barcode QRIS yang kini menjadi bagian dari aktivitas jualannya, Erni masih menyimpan satu mimpi. Ia ingin memiliki lahan dan tempat usaha sendiri.
Bukan sekadar kios.Ia membayangkan suatu hari nanti kios pulsa, warung kecil dan usaha makanan yang kini dirintis bersama suaminya dapat berada dalam satu tempat.
Semuanya bermula dari usaha kecil yang dikerjakan dengan ketekunan.
Dari kios pulsa sederhana.
Dari warung di rumah.
Dari mi dan gorengan.
Dari transaksi tunai yang dulu membuatnya harus selalu menyiapkan uang kembalian.
Dan kini, dari sebuah barcode yang membuat transaksi menjadi lebih mudah.
Perjalanan Erni memperlihatkan bahwa transformasi digital tidak harus dimulai dari bisnis besar. Ia bisa dimulai dari sebuah kios kecil. Dari seorang ibu rumah tangga. Bahkan dari transaksi senilai Rp2.000.
Di tingkat daerah, pertumbuhan pengguna QRIS menjadi 597.907 orang hingga Juni 2026, ditambah 387.182 merchant dan 6,93 juta transaksi sepanjang semester pertama 2026, menunjukkan semakin luasnya penggunaan pembayaran digital di Sulawesi Utara.
Pertumbuhan itu menjadi bagian dari ekosistem ekonomi digital yang mempertemukan konsumen, pelaku usaha, perbankan, penyedia jasa pembayaran dan lembaga keuangan. Namun di balik statistik itu, terdapat cerita manusia.

Ada pedagang yang belajar teknologi.
Ada pelanggan yang menemukan cara pembayaran lebih praktis.
Ada keluarga yang terus memutar keuntungan untuk bertahan dan berkembang.
Dan ada mimpi yang perlahan dibangun dari transaksi-transaksi kecil.
Bagi Erni, barcode QRIS bukan sekadar kotak hitam-putih. Di baliknya ada keberanian mencoba sesuatu yang baru, tentang usaha yang terus diputar, tentang keluarga yang diperjuangkan, dan tentang harapan untuk suatu hari memiliki tempat usaha sendiri.
Sebab pada akhirnya, transformasi digital bukan hanya tentang teknologi. Ia juga tentang bagaimana teknologi masuk ke kehidupan sehari-hari, membantu memperlancar transaksi, memperluas akses pembayaran, dan memberi ruang bagi usaha-usaha kecil untuk menjadi bagian dari ekosistem ekonomi yang terus berkembang.
Dan bagi Erni, setiap kali barcode itu dipindai, ada satu langkah kecil yang kembali dibuat menuju mimpi yang lebih besar.(*)
















