Enam Hari Bersama Honda Vario Evo 160 : Ketika Mobilitas Menjadi Cerita

Unknown's avatar
banner 120x600

Oleh: Gabriella Rarumangkay

Pagi selalu datang dengan cerita yang hampir sama.

Alarm berbunyi.

Anak harus bersiap ke sekolah. Suami berangkat bekerja. Setelah pintu rumah tertutup dan aktivitas keluarga selesai, babak lain dalam keseharian saya sebagai seorang ibu rumah tangga pun dimulai.

Namun, selama enam hari, ada satu hal yang membuat rutinitas itu terasa sedikit berbeda.

Sebuah Honda Vario Evo 160.

Hari pertama bersama motor ini dimulai dengan perjalanan sederhana. Tujuannya tidak jauh dari rumah, hanya menuju salah satu supermarket untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Tidak ada perjalanan jauh. Tidak ada agenda istimewa.

Hanya saya, jalanan pagi, dan sebuah Vario Evo 160.

Namun justru dalam perjalanan sederhana itu saya mulai merasakan sesuatu.

Tenang.

Motor ini terasa begitu bersahabat diajak menyusuri jalan. Tidak berlebihan, tetapi cukup untuk membuat perjalanan sehari-hari terasa lebih nyaman.

Sesampainya di supermarket, saya memarkir kendaraan dan masuk untuk berbelanja.

Tapi sebelum benar-benar meninggalkannya, entah mengapa mata saya beberapa kali masih tertuju ke area parkir.

Unit yang memiliki balutan warna putih, merah dan biru itu terlihat begitu mencolok.

Dalam hati saya sempat memastikan,“Aman, kan?

”Maklum, baru hari pertama.

Beberapa menit kemudian, tragedi kecil terjadi.

Atau lebih tepatnya, tragedi hilang ingatan.

Selesai berbelanja, saya keluar dari supermarket dan tanpa berpikir panjang membuka aplikasi ojek online.Saya pesan kendaraan.

Baru sekitar 300 meter berjalan, tiba-tiba saya tersadar.

“Eh… saya bawa motor!”

Saya langsung berbalik.

Menuju parkiran.

Dan di sana, Vario Evo 160 masih menunggu.

Diam.

Setia.

Entah kenapa, saat itu rasanya seperti melihat seorang anak kecil yang ditinggal ibunya.

Ada rasa bersalah.

Saya bahkan sempat mengelusnya sambil memastikan,

“Maaf ya. Tidak akan saya tinggal lagi.”

Hehehe…

Mungkin terdengar berlebihan.

Tetapi begitulah pengalaman pertama saya bersama Vario Evo 160.

Hari-hari berikutnya berjalan semakin dinamis.

Karena selain menjadi ibu rumah tangga, saya juga seorang jurnalis.

Artinya, kendaraan bukan hanya alat transportasi.

Ia adalah bagian dari pekerjaan.

Pagi mengantar anak sekolah.

Berlanjut menuju lokasi liputan.

Turun di Kantor Wali Kota.

Berpindah dari satu agenda ke agenda lainnya.

Kemudian kembali menjemput anak.

Lalu pulang ke rumah.Begitu seterusnya.

Dalam mobilitas seperti itu, kendaraan dituntut bukan hanya mampu membawa saya dari satu titik ke titik lain, tetapi juga mampu mengikuti ritme hidup yang terkadang tidak mengenal kata “sebentar.”

Dan di situlah saya mulai memahami arti Vario Evo 160 bagi keseharian saya.

Praktis. Gesit. Dan ekonomis.

Apalagi bagi seorang ibu yang setiap hari harus membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan.

Ada satu hal menarik selama mengendarainya.

Odometer masih menunjukkan sekitar 750 kilometer ketika saya mulai menggunakannya.

Namun, meski masih terbilang muda, motor ini seolah sudah menjadi bagian dari rutinitas.

Yang menarik, bukan hanya saya yang memperhatikannya.

Di jalan, beberapa pasang mata terlihat mengikuti.

Sesekali ada pengendara lain yang melirik.

Bahkan pernah seorang bapak-bapak di dalam mobil terlihat memperhatikan cukup lama.

Saya tidak tahu apa yang ada di pikirannya.

Mungkin sekadar melihat.

Atau jangan-jangan…

“Wah, saya juga mau yang seperti itu.”

Hehehe.

Boleh sombong sedikit.

Toh, yang saya kendarai ini bukan motor pinjaman sembarangan.

Ini Honda Vario Evo 160.

Enam hari ternyata berlalu begitu cepat.

Tidak terasa, tetapi sangat berarti.

Ada banyak perjalanan pendek yang ternyata menjadi pengalaman panjang.

Ada aktivitas rumah tangga.Ada pekerjaan jurnalistik.

Ada kejar-kejaran dengan waktu.

Ada antar-jemput anak.

Ada perjalanan menuju lokasi liputan.

Dan tentu saja, ada kisah “hampir meninggalkan motor sendiri” yang mungkin akan terus saya ingat.

Dari enam hari tersebut, saya belajar satu hal.

Kendaraan yang baik bukan hanya soal bagaimana ia terlihat ketika diparkir.

Tetapi bagaimana ia hadir ketika dibutuhkan.

Ketika waktu terbatas.

Ketika pekerjaan menunggu.

Ketika anak harus dijemput.

Ketika kebutuhan rumah tangga harus diselesaikan.

Dan ketika seorang jurnalis harus bergerak cepat mengejar informasi.

Vario Evo 160 hadir di sela-sela semua itu.

Ia membantu menghemat waktu.

Ia membantu menekan biaya operasional.

Dan secara tidak langsung, ia juga mengingatkan saya bahwa mobilitas yang nyaman tetap harus dibarengi dengan satu hal yang tidak boleh ditawar :

kehati-hatian dalam berkendara.

Sebab secepat apa pun kita ingin sampai, keluarga tetap menunggu kita pulang.

Enam hari bersama Vario 160 Evo mungkin bukan waktu yang panjang.

Tetapi cukup untuk meninggalkan kesan.

Ada kendaraan yang hanya kita gunakan.

Ada pula kendaraan yang membuat kita merasa nyaman ketika menggunakannya.

Dan bagi saya, enam hari ini masuk dalam kategori kedua.

Terima kasih, Honda Vario Evo 160.

Untuk perjalanan yang lebih hemat waktu.Untuk mobilitas yang terasa lebih praktis.

Untuk pengalaman enam hari yang ternyata penuh cerita.

Dan satu permintaan maaf kecil…

Maaf sudah hampir meninggalkanmu di parkiran.

Saya janji, setelah ini kalau pergi bersama, saya tidak akan lupa lagi. 😂

Untuk PT Daya Adicipta Wisesa, terima kasih telah memberikan kepercayaan kepada jurnalis SulutNewsTV untuk merasakan langsung pengalaman bersama Honda Vario Evo 160.

Enam hari mungkin singkat.

Tetapi cerita yang ditinggalkan?

Bisa jauh lebih panjang dari jarak yang kami tempuh.

Karena pada akhirnya, sebuah kendaraan bukan hanya tentang perjalanan dari rumah menuju tujuan.

Tetapi tentang cerita-cerita kecil yang terjadi di sepanjang perjalanan.

(*)

Leave a Reply

Discover more from www.sulutnewstv.com

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading