SULUTNEWSTV.com, MANADO — Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dan Bank Indonesia memperkuat koordinasi untuk menekan gejolak harga cabai sekaligus menjaga stabilitas inflasi daerah.
Biaya pengangkutan 2,4 ton cabai dari Probolinggo ke Manado difasilitasi melalui skema reimburse Fasilitasi Distribusi Pangan atau FDP Bank Indonesia.
Skema tersebut digunakan untuk memperlancar pergerakan komoditas pangan dari wilayah surplus menuju daerah yang membutuhkan tambahan pasokan.
Intervensi cabai ini menjadi penting karena tingginya kebutuhan masyarakat Sulawesi Utara membuat komoditas pangan strategis sangat mudah mengalami tekanan harga ketika pasokan terganggu.
Kepala KPw BI Sulawesi Utara, Joko Supratikto, mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari kerja bersama TPID untuk memastikan pasokan pangan tetap tersedia dan harga tidak melonjak.
Upaya ini melibatkan sejumlah pihak, mulai dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, Bank Indonesia, Satgas Pangan, Angkasa Pura, Injourney, hingga pelaku usaha dan pedagang pasar.
Pengawalan dilakukan sejak proses pengiriman hingga cabai masuk ke pasar. Tim TPID juga disiagakan untuk memastikan proses penerimaan dan distribusi berjalan sesuai rencana.
Pemerintah berharap pasokan langsung dari sentra produksi dapat memangkas disparitas harga antara produsen dan konsumen.
Di sisi lain, pedagang diminta ikut menjaga stabilitas harga dengan menjual cabai sesuai HAP, mengambil keuntungan secara wajar, dan tidak memanfaatkan kondisi pasokan untuk menaikkan harga secara berlebihan.
Intervensi ini menjadi salah satu langkah konkret Sulawesi Utara menghadapi tekanan inflasi sekaligus menjaga agar harga pangan tetap terjangkau bagi masyarakat.(*/gabby)
















