Harga Cabai Rawit Tertekan, BI Dorong Boltara Perkuat Ketahanan Pangan

Unknown's avatar
banner 120x600

SULUTNEWSTV.com, BOLMONG UTARA – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Utara mendorong Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Boltara) memperkuat pengendalian inflasi, menyusul tekanan harga sejumlah komoditas pangan, terutama cabai rawit.

Hal tersebut disampaikan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Sulawesi Utara Joko Supratikto melalui Deputi Kepala Perwakilan BI Sulut Purwanto dalam High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) Kabupaten Boltara di Boroko, Selasa (8/9/2026).

Dalam paparannya, Purwanto menyebut sejumlah komoditas masih memberikan tekanan terhadap inflasi Sulawesi Utara, di antaranya cabai rawit, kangkung, angkutan udara, daun bawang dan cabai merah.

Khusus Kabupaten Boltara, perhatian diarahkan pada komoditas cabai rawit. Tingginya Indeks Perkembangan Harga (IPH) Boltara menunjukkan adanya tekanan harga yang perlu segera diantisipasi melalui penguatan pasokan dan distribusi.

BI bersama TPID mendorong pengendalian inflasi melalui strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi dan komunikasi efektif.

Sejumlah langkah yang dapat dioptimalkan antara lain Gerakan Pangan Murah (GPM), Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP), serta penguatan Kerja Sama Antardaerah (KAD).

Bupati Boltara Sirajudin Lasena mengatakan pemerintah daerah berkomitmen memperkuat ketahanan pangan, terutama menghadapi tantangan perubahan iklim yang dapat berdampak terhadap produksi sejumlah komoditas.

Menurutnya, cabai rawit dan beras premium menjadi dua komoditas yang mendapat perhatian karena menghadapi tekanan dari sisi pasokan.

“Dari sisi produksi, Boltara memiliki potensi lahan sawah yang besar,” kata Sirajudin.

Namun, potensi tersebut masih dihadapkan pada keterbatasan alat dan mesin pertanian (alsintan), khususnya ketika terjadi panen serentak.

Pemkab Boltara kemudian mendorong peningkatan produktivitas melalui pengembangan varietas padi bersama Institut Pertanian Bogor (IPB), penerapan teknologi Tanam Benih Langsung (Tabela) serta perluasan akses kredit alsintan bagi petani.

Penerapan teknologi Tabela disebut mampu menghasilkan produktivitas hingga 10,03 ton per hektare.

Di sisi lain, Manajer PEPK & LMS OJK SulutGo Toar Kaesar Dotulung menyampaikan pentingnya perluasan akses pembiayaan bagi sektor pertanian melalui skema ekosistem closed loop.

Skema tersebut dapat melibatkan pemerintah daerah, pelaku usaha, offtaker, lembaga penjamin dan perusahaan asuransi sehingga pembiayaan sektor pertanian dapat berjalan lebih terintegrasi.

Sementara itu, Kepala BPS Boltara Andi Alimuddin memaparkan dukungan data statistik dalam penguatan kebijakan daerah, termasuk melalui indikator IPH, produksi pertanian, kemiskinan dan Nilai Tukar Petani (NTP).

HLM tersebut turut dirangkaikan dengan penyerahan rompi TPID dari KPwBI Sulut kepada Tim TPID Boltara serta bantuan pakan ternak kepada 10 kelompok tani untuk mendukung penguatan sektor pangan daerah.(*/gabby)

Leave a Reply

Discover more from www.sulutnewstv.com

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading