Saat Yaki Menjadi Penanda: Adaptasi Energi Panas Bumi untuk Menjaga Kehidupan di Atas Bumi

Unknown's avatar
banner 120x600

“Di Lahendong, Tomohon, sembilan Yaki menjadi pengingat bahwa energi bersih tidak hanya berbicara tentang listrik yang dihasilkan, tetapi juga tentang kehidupan yang harus tetap terjaga.“

Penulis, Gabriela S Rarumangkay

TOMOHON — Sembilan ekor Yaki menjadi bagian dari sebuah perjalanan yang jauh lebih besar dari sekadar penyelamatan satwa. Di Hutan Rurukan, Tomohon, keberadaan mereka menghadirkan sebuah pertanyaan penting di tengah pengembangan energi panas bumi: bagaimana manusia dapat memanfaatkan kekayaan alam tanpa kehilangan tanggung jawab untuk menjaga kehidupan yang tumbuh di atasnya?

Pertanyaan itu menemukan relevansinya di Lahendong, salah satu kawasan pengembangan panas bumi di Sulawesi Utara. Di bawah bentang alam yang menyimpan energi dari perut bumi, terdapat hutan yang menjadi ruang hidup berbagai spesies. Salah satunya Yaki atau Macaca nigra, satwa endemik Sulawesi yang berstatus Critically Endangered (CR) atau Kritis dalam daftar merah IUCN, serta termasuk satwa yang dilindungi.

Bagi spesies yang menghadapi ancaman kepunahan, setiap individu memiliki arti penting. Berdasarkan hasil survei dan pengamatan lapangan di kawasan Lahendong, tercatat sembilan individu Yaki yang kemudian memasuki tahapan habituasi di Hutan Rurukan sebelum dilakukan pelepasliaran.

Sembilan individu.

Angka yang mungkin terlihat sederhana. Namun, di tengah tekanan terhadap habitat dan keberlangsungan spesies, sembilan individu itu membawa makna yang jauh lebih besar: sembilan kesempatan untuk mempertahankan kehidupan. Di sinilah cerita energi panas bumi menemukan perspektif yang berbeda. Bahwa di balik upaya memenuhi kebutuhan energi, ada tanggung jawab untuk memastikan alam tetap memiliki ruang bagi kehidupan lainnya.

Menyelamatkan satwa tidak cukup hanya dengan memindahkannya ke tempat yang dianggap lebih aman. Satwa membutuhkan habitat yang sesuai, sumber makanan yang tersedia, serta lingkungan yang memungkinkan mereka bertahan hidup dalam jangka panjang.

Kesadaran inilah yang menjadi bagian dari pendekatan konservasi Yaki di kawasan Lahendong. Melalui program Lestari Manimpang: Dengan ‘Mapalus’ Torang Lestarikan dan Lindungi Monyet Yaki, upaya konservasi dilakukan dengan melibatkan lingkungan dan masyarakat.

Data program mencatat keberadaan lima individu Yaki pada area sekitar 6,94 hektare. Di kawasan tersebut, konservasi tidak hanya diarahkan pada perlindungan satwa, tetapi juga pada upaya menjaga ruang hidupnya. Hutan harus tetap menyediakan sumber makanan. Vegetasi alami perlu dipertahankan. Ekosistem harus dijaga agar tetap mendukung kehidupan satwa.

Pada saat yang sama, masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan perlu mendapatkan ruang untuk terlibat dalam upaya perlindungan lingkungan. Di titik inilah nilai mapalus menemukan relevansinya.

Sebagai semangat gotong royong yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sulawesi Utara, mapalus menghadirkan pendekatan bahwa pekerjaan besar akan lebih mudah dilakukan melalui kebersamaan. Konservasi pun tidak lagi menjadi urusan satu pihak.

Ia membutuhkan kolaborasi antara pengelola kawasan, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan perlindungan ekosistem dapat berjalan secara berkelanjutan. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa perubahan dalam pengelolaan lingkungan tidak selalu dimulai dengan teknologi baru. Terkadang, perubahan justru lahir dari cara pandang yang lebih terbuka terhadap peran manusia dalam menjaga alam.

SEGARIS PELANGI: Ketika Aren Menjadi Bagian dari Solusi

Di kawasan yang sama, terdapat cerita lain tentang bagaimana potensi alam dapat dikembangkan tanpa harus menghilangkan fungsi ekologis hutan. Melalui SEGARIS PELANGI — Strategi Pengembangan Industri Gula Aren Berbasis Agroforestri dan Pemanfaatan Langsung Panas Bumi — PGE Area Lahendong mengembangkan tanaman aren dengan pendekatan agroforestri.

Konsep ini menempatkan tanaman produktif sebagai bagian dari sistem pengelolaan lahan yang tetap mempertahankan vegetasi alami. Bukan mengganti hutan dengan perkebunan, melainkan mengembangkan potensi ekonomi dengan tetap menjaga keberadaan unsur-unsur ekologis kawasan.

Data dalam Dokumen Ringkasan Kinerja Pengelolaan Lingkungan (DRKPL) mencatat 789 individu tanaman aren pada area seluas 6,7 hektare. Aren memiliki potensi untuk memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat. Namun, pendekatan agroforestri juga membawa pesan penting: pemanfaatan sumber daya alam perlu mempertimbangkan daya dukung lingkungan.

Ketika hutan tetap dipertahankan dan tanaman produktif dikembangkan secara tepat, ruang ekologis dan peluang ekonomi tidak harus selalu ditempatkan dalam posisi yang saling bertentangan. Di sinilah fleksibilitas menjadi penting. Pengelolaan kawasan tidak harus terpaku pada satu pendekatan. Potensi yang tersedia dapat dikembangkan dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan, kebutuhan masyarakat, dan tujuan konservasi.

Bagi masyarakat, pendekatan ini membuka ruang untuk melihat hutan bukan hanya sebagai sumber daya yang dimanfaatkan, tetapi juga sebagai aset yang perlu dijaga agar manfaatnya dapat terus dirasakan. Sebab, keberlanjutan tidak hanya berbicara tentang bagaimana alam dipertahankan, tetapi juga bagaimana manusia dapat hidup berdampingan dengan alam secara lebih bijaksana.

Energi Bersih dan Tantangan Menjaga Keseimbangan

Lahendong dikenal sebagai salah satu kawasan pengembangan panas bumi di Indonesia. Sebagai sumber energi yang memanfaatkan panas dari dalam bumi, panas bumi memiliki peran dalam mendukung penyediaan energi yang lebih rendah emisi dibandingkan pembangkit berbahan bakar fosil.

Namun, pengembangan energi bersih juga membutuhkan perhatian terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya. Setiap kawasan memiliki karakteristik ekologis yang berbeda. Ada hutan, vegetasi alami, satwa liar, serta masyarakat yang menggantungkan kehidupan pada lingkungan tersebut.

Karena itu, pengembangan panas bumi tidak dapat dilepaskan dari upaya memahami dan mengelola potensi dampak terhadap lingkungan. Tantangannya bukan sekadar bagaimana menghasilkan energi, tetapi bagaimana memastikan kegiatan tersebut berjalan dengan memperhatikan keseimbangan ekologis dan sosial.

General Manager PGE Area Lahendong, Yanuaris Dwi Cahyono, mengatakan konservasi di wilayah operasi dilakukan dengan melihat kondisi lingkungan dan potensi yang ada di sekitar kawasan.

“Konservasi di wilayah Lahendong kami lakukan dengan melihat kondisi lingkungan dan potensi yang ada di sekitar wilayah operasi. Kami terus mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak agar upaya perlindungan ekosistem dan satwa dapat berjalan berkelanjutan, sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar,” ujar Yanuaris.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa upaya konservasi perlu berjalan bersama dengan pengelolaan wilayah operasi dan keterlibatan masyarakat. Dalam konteks ini, adaptasi menjadi bagian penting dari upaya menjaga keberlanjutan. Pengelolaan lingkungan perlu menyesuaikan diri dengan karakteristik kawasan. Pendekatan konservasi harus mempertimbangkan kondisi habitat. Sementara itu, pemanfaatan potensi ekonomi perlu memperhatikan fungsi ekologis yang sudah ada.

Artinya, keberlanjutan tidak cukup dicapai dengan menetapkan satu tujuan, lalu mengabaikan tujuan lainnya. Diperlukan kemampuan untuk mencari titik temu di antara berbagai kepentingan yang hadir dalam satu lanskap.

Perubahan Cara Pandang: Dari Memanfaatkan Alam Menjadi Menjaga Kehidupan

Pengembangan energi dan perlindungan lingkungan kerap dipandang sebagai dua hal yang berhadapan. Di satu sisi, masyarakat membutuhkan energi untuk menjalankan aktivitas ekonomi dan kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, lingkungan memiliki batas yang perlu diperhatikan agar sumber daya alam tetap mampu menopang kehidupan. Namun, tantangan keberlanjutan justru mendorong perubahan cara pandang.

Energi tidak lagi semata-mata dipahami sebagai hasil produksi. Ia juga perlu dilihat dalam konteks lingkungan dan kehidupan masyarakat di sekitarnya. Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, menempatkan pendekatan tersebut dalam konteks yang lebih luas.

“Bagi PGE, keberlanjutan merupakan bagian dari bagaimana kami menjalankan operasional dan mengembangkan potensi panas bumi dengan tetap memperhatikan perlindungan keanekaragaman hayati serta manfaat bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi,” kata Ahmad Yani. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan membutuhkan lebih dari sekadar inovasi teknologi.

Ia membutuhkan perubahan dalam cara mengambil keputusan, menentukan prioritas, serta melihat hubungan antara aktivitas manusia dan lingkungan. Sebuah solusi tidak cukup dinilai dari manfaat ekonominya. Dampak terhadap lingkungan dan masyarakat juga perlu menjadi bagian dari pertimbangan.

Begitu pula dalam pengembangan energi panas bumi. Keberhasilan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghasilkan listrik, tetapi juga dengan bagaimana pengelolaan kawasan mampu memperhatikan keanekaragaman hayati dan kehidupan masyarakat. Di sinilah fleksibilitas memiliki peran.

Ketika kondisi lingkungan berbeda, pendekatan pengelolaan juga perlu disesuaikan. Ketika kebutuhan masyarakat berkembang, program pemberdayaan perlu mempertimbangkan perubahan tersebut. Sementara ketika sebuah pendekatan belum memberikan hasil yang optimal, evaluasi menjadi bagian dari proses untuk menemukan solusi yang lebih baik.

Perubahan bukan berarti meninggalkan tujuan awal. Justru melalui perubahan, tujuan keberlanjutan dapat diwujudkan dengan cara yang lebih relevan.

Dari Yaki ke Aren, Sebuah Lanskap yang Saling Terhubung

Yaki dan aren mungkin tidak memiliki hubungan langsung.

Yang satu adalah satwa liar yang menghadapi ancaman kepunahan. Yang lainnya merupakan tanaman yang memiliki potensi ekonomi.

Namun, keduanya bertemu pada satu ruang yang sama: hutan.

Yaki membutuhkan hutan sebagai habitat. Aren dapat dikembangkan sebagai bagian dari pemanfaatan lahan berbasis agroforestri. Masyarakat membutuhkan lingkungan yang tetap terjaga untuk mendukung kehidupan dan penghidupan.

Sementara itu, panas bumi membutuhkan pengelolaan kawasan yang memperhatikan kondisi ekologis di sekitarnya.

Berbagai kepentingan tersebut tidak selalu mudah dipertemukan. Namun, di Lahendong, upaya konservasi Yaki dan pengembangan aren memperlihatkan bagaimana pendekatan yang berbeda dapat diarahkan pada satu tujuan yang sama: menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya dan perlindungan lingkungan.

Bukan memilih antara energi atau lingkungan.

Bukan pula memilih antara konservasi atau ekonomi masyarakat.

Melainkan mencari cara agar ketiganya dapat berjalan dalam satu lanskap yang saling mendukung.

Pendekatan ini juga memberikan pelajaran bagi masyarakat.

Keberlanjutan bukan hanya tanggung jawab perusahaan atau pemerintah. Masyarakat dapat mengambil bagian melalui pemanfaatan sumber daya secara bijak, menjaga vegetasi alami, serta mendukung kegiatan yang memberikan manfaat ekonomi tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan. Sebab, lingkungan yang terjaga bukan hanya memberikan manfaat bagi satwa liar, tetapi juga menjadi bagian penting dari kehidupan manusia.

Mengukur Keberhasilan dari Kehidupan yang Tetap Tumbuh

Ada hal-hal yang tidak dapat dihitung hanya dengan angka produksi energi. Seekor Yaki yang tetap hidup di habitatnya. Hutan yang masih memiliki vegetasi alami. Aren yang tumbuh dengan pendekatan agroforestri. Masyarakat yang memperoleh peluang ekonomi dari lingkungan yang tetap terjaga. Semua itu merupakan bagian dari nilai keberlanjutan yang tidak selalu terlihat dalam laporan produksi.

Di Lahendong, upaya konservasi mengambil bentuk yang lebih luas: melindungi keanekaragaman hayati, mempertahankan ekosistem, melibatkan masyarakat, sekaligus membuka ruang bagi pengembangan potensi ekonomi lokal.

Namun, keberlanjutan juga menuntut konsistensi.

Pelepasliaran satwa perlu diikuti pemantauan. Pengembangan tanaman produktif perlu memperhatikan kondisi lingkungan. Keterlibatan masyarakat perlu dijaga agar manfaat program dapat dirasakan dalam jangka panjang. Dengan demikian, keberhasilan konservasi tidak berhenti pada jumlah satwa yang dilepasliarkan atau tanaman yang ditanam.

Ia juga perlu dilihat dari bagaimana ekosistem tetap berfungsi, bagaimana satwa mampu bertahan, dan bagaimana masyarakat dapat memperoleh manfaat tanpa menghilangkan ruang hidup bagi spesies lainnya. Pada akhirnya, panas bumi bukan hanya tentang apa yang diambil dari dalam bumi. Ia juga tentang apa yang dijaga di atasnya.

Sembilan Yaki di Hutan Rurukan menjadi salah satu pengingat bahwa pengembangan energi dan perlindungan kehidupan harus berjalan dengan kesadaran yang sama. Bahwa perubahan membutuhkan kemampuan beradaptasi. Bahwa fleksibilitas diperlukan untuk menemukan solusi.

Dan bahwa keberlanjutan hanya dapat dicapai ketika manusia mampu melihat alam bukan semata-mata sebagai sumber daya, melainkan sebagai ruang kehidupan yang harus dijaga bersama. Sebab, keberhasilan sebuah energi bersih tidak hanya diukur dari seberapa banyak listrik yang dihasilkan. Tetapi juga dari seberapa banyak kehidupan yang mampu tetap tumbuh bersamanya.(*)

Leave a Reply